Kemal At-Taturk, tokoh yang sekarang diagung-agungkan menjadi bapak sekulerisme tak lain adalah seorang penghianat yang dengan sengaja ikut menghancurkan Islagi47m dan sistem Islam. Turki yang dibawah kekuasaan Khilafah, berubah menjadi sistem Republik, dan mengubah bentuk dan jati dirinya yang sampai sekarang menjadi sistem sekuler, yang menolak Islam.
Pasukan Tartar berhasil masuk kota Bagdad, menghancurkan dan membakar Bagdad karena adanya penghianatan yang dilakukan oleh pengikut Syiah, dan bersedia berkolaborasi dengan pasukan Tartar, menghancurkan Daulah Abbasiyah.
Di semenanjung Arabia, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tengah, kekuasaan Islam runtuh bersamaan dengan adanya penjajahan baru yang mengancurkan sistem Islam, dan masuknya para penjajah yang menggantikan sistem Islam dengan sistem Sekuler. Kedatangan para penjajah hingga kini bukan hanya menguasai sumber daya alam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sekulerisme yang menjadi jangkar bagi penguasaan dan penjajahan.
Melalui nilai-nilai sekuler yang ditanamkan sebagai sebuah ideologi yang kemudian dicangkokkan ke negara-negara muslim dan menyebabkan mereka menjadi lumpuh dan tidak memiliki lagi spirit, dan perlawanan terhadap para penjajah. Justru mereka menjadi pembela dan tulang punggung penjajah, dan bersedia mati untuk membela para penjajah.
Nilai-nilai sekuler itu tak lain paham meterialisme yang sudah merasuk ke dalam jiwa-jiwa penduduk negara muslim. Sekulerisme melahirkan ketamakan terhadap materi dan meninggalkan agama. Maka rakyat di negara Islam menjadi sangat permisive (longgar) terhadap sekulerisme yang merusak akal dan jiwa mereka. Ini senjata pamungkas bagu para penjajah terhadap umat Islam.
Penjajahan yang bersifat permanen terus dijaga dengan berbagai bentuk, diantaranya dengan menciptakan para penghianat yang bersedia membela kepentingan para penjajah. Politik, divide at impera (memecah belah) dikalangan umat di negara muslim berlangsung dengan berbagai strategy termasuk membuat propaganda yang sistematis terhadap kelompok-kelompok yang menentang penjajah, (e.g. gelar ekstrim, fundamentalist, eklusif, dan radikal).
AS sebagai negara yang secara terbuka yang menyatakan perang secara global terhadap terorisme dan sekaligus kaum muslim yang ingin melawan penjajahan barat dan zionisme, seperti yang terjadi di Palestina, Irak, Kashmir, Afghanistan, Somalia, Sudan Selatan telah mendapatkan label sebagai musuh umat manusia dan mendapat julukan Terrorist.
Padahal Barat sebagai Tuhannya Sekulerisme yang melakukan kejahatan dan penjajahan, serta perbudakan malah mendapat dukungan. Tindakan AS yang menginvasi negara-negara tersebut justru mendapatkan pembenaran dunia yang mengatakan sebagai perang melawan terorisme. Jumlah kematian yang begitu besar dari penduduk Gaza's tak menyebabkan Israel dapat dihukum. AS seakan berhak menginvasi negara lain hanya berdasarkan tuduhan bukan bukti dan fakta.
Para penjajah dapat berbuat semena-mena terhadap negara Muslim tidak lain karena adanya para pengianat (Betrayed) yang bersedia menjadi kaki tangan para penjajah, yang kemudian tangan mereka berlumuran darah. AS dapat masuk ke Afghanistan couse adanya penghianatan Jendral Rashid Dostum, yang bersedia menjadi kaki tangan AS.
Di Iraq ada Chalabi dan tokoh-tokoh lainnnya yang mendukung invasi AS ke Iraq, di Palestine, ada Mahmud Abbas dan lainnya, yang bersedia melakukan apapun untuk Zionist. Sperti juga para penghianat lainnya di negara-negara Muslim yang bersedia menghancurkan Islam demi “tuannya“ (Barat) yang telah memberika “roti“ kepada mereka.
Inilah peranan para penghianat (Betrayed) di negara-negara Muslim. Tangan mereka berlumuran darah saudaranya.
Kamis, 13 Februari 2014
Para Penghianat Islam (Tangan mereka berlumuran darah saudaranya)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar